Minggu, 26 Mei 2019

KISAH BARSESO MENYEKUTUKAN TUHANNYA


Disuatu daerah di Jawa Timur. Terdapat sebuah pondok yang cukup besar. Ribuan santri belajar ilmu agama disana dengan seorang Kyai yang sangat masyhur didaerahnya. Dia adalah seorang yang sangat hebat.Dalam dirinya ketika seseorang berada diatasnya maka ia harus berada diatasnya lagi atau ketika ada orang yang kehebatannya melebihi dirinya maka ia harus bisa menandinginya. Nama kyai tersebut adalah kyai Barseso.

Suatu hari kyai barseso sedang berjalan – jalan pada sebuah ilalang yang sangat panjang. Dia melihat ada makhluk yang sholat berada diatas ilalang. Dia tak tau bahwa makhluk itu adalah syetan yang menyerupai seorang manusia yang sangat bertaqwa kepada Allah. Barseso ingin memiliki ilmu itu. Sehingga ia langsung menghampiri makhluk itu dan bertanya.
’’Wahai makhluk Allah mengapa engkau bisa sholat berdiri diatas ilalang?, bisakah aku belajar ilmu itu kepadamu’’. Tanya Barseso kepada syetan.
’’ Aku bisa begini karena ketaqwa’anku pada Allah, jika kamu mau seperti aku ada persyaratan yang harus kamu lakukan’’. Jawab syetan kepada Barseso dengan kata – kata yang meyakinkan kepada Barseso jikalau dia adalah makhluk Allah yang sangat mulia.
’’Persyaratan apa itu?’’. Tanya Barseso penasaran.
’’Jika kamu ingin mempunyai ilmu seperti saya maka kamu harus meminum khamer’’. Jawab syetan.

 Barseso bingung mau memilih yang mana antara menyekutukan tuhan Nya yakni meminum khomer yang jelas hukumnya haram jika orang mukmin meminumnya dan tidak akan diterima ibadahnya selama empat puluh hari,empat puluh malam. Dan jikalau tidak meminumnya berarti ilmu yang dipelajari tiak sempurna. Resah gelisah kini menghantui Barseso. Dua pilihan yang sangat memberatkan hatinnya. Para syetan bergerumpul berada dekat sekali dengan Barseso dan merayunya untuk memiliki ilmu itu. Namun iman dari dalam hati Barseso dapat menepisnya. Syetanpun tak mau kalah dengan berbagai bisikan bisikan dan rayuan rayuan ghaib, para setan mampu menarik hati Barseso.

Dan setelah berfikir panjang, akhirnya Barsesopun memutuskan untuk meminum khamer tersebut dan akan dapat bersembahyang di atas rumput seperti halnya syetan itu. Dalam benak Barseso berkata pada dirinya sendiri.
’’ Alah setelah aku meminum khamer ini aku akan bertobat kepada Allah dan menyesali perbuatanku’’.ucap barseso dalam hati.

Malang menimpa Barseso setelah meminum khamer, tidak ilmu sakti yang diraihnya namun rasa sakit saat harus mati dalam keadaan kafir. Ilmu yang bertahun tahun Ia cari tak ada gunanya. Barseso yang dulunya seorang kyai besar kini hanya seorang yang rapuh. Saat nyawa telah ditenggorokan ingin sekali mengucapkan dua kalimat sahabat seraya bertobat memohon ampun atas satu perbuatan kemaksiatan terbesar bagi dirinya. Namun apalah daya Allah maha segalanya . Allah mengetahui apa yang tidak diketahui oleh makhluknya.

Seorang yang besar acapkali diartikan orang yang tak pernah melakukan kesalahan sedikitpun. Namun pengertian tersebut salah besar. Karena tidak ada makhluk ciptaanNya yang sempurna kecuali Nabi Muhammad saw. Seorang ahli kitab juga para kyai pernah melakukan kesalahan. Karena mereka adalah makhluk yang diberikan anugrah terindah berupa akal dan nafsu.

Namun jangan salah diartikan. Allah memberikan nafsu kepada hambanya agar sihamba dapat bertindak sesuai dengan hati nuraninya. Nafsu bukan menjadi ajang kita untuk beralasan mengapa kita berbuat salah. Presepsi ini harus dihilangkan. Karena seseorang yang mengatakan  jika dirinya tidak sempurna adalah seseorang yang tidak tahu apa potensi dalam dirinya. Justru kita harus membuktikan jka kita juga dapat sempurna walaupun diatas keterbatasan yang kita miliki.

Akal dan nafsu adalah dua hal yang berkaitan. Seseorang dikatakan manusia apabila memiliki kedua hal ini. Terlepas dari semua itu., manusia yang baik adalah manusia yang dapat menempatkan akal dan nafsu dimana keduanya ditempatkan. Bayangkan saja sepeda motor. Gas adalah nafsunya dan rem adalah akalnya. Seorang pengemudi harus pintar dan bijak pada kendaraan yang dikendarainya.

Kehidupanpun bagai lalu lintas dijalan raya. Pertama Saat kita akan menuju kesebuah tempat didepan kita pasti ada pengendara lain juga yang berada dibelakang kita. Itu menandakan jika kita tidak boleh sombong ingat didepan kita masih ada orang lain yang lebih dari kita. laju kendaraan penendara yang didepan kita lebih tinggi daripada kita, maka kita tidak boleh sombong dengan apa yang telah kita miliki. Dan ingatlah dibelakang kita juga masih terdapat kendaraan lain yang laju kendaraannya lebih lambat dari kita jadi kita tidak boleh mengeluh dan berputus asa.

Kedua,mematuhi peraturan yang ada. Banyak sekali rambu rambu di depan atau dipenggir jalan raya. Sepatutnya kita sebagai pengemudi yang baik harus mematuhi dan mentaati peraturan yang ada. Peraturan yang dibuat oleh pemerintah karena ingin menekan angka kecelakaan yang terjadi dijalan raya. Begitupun dengan Tuhan, Allah melarang kita berbuat maksiat dan menyuruh kita berbuat baik atau disebut taqwa semata mata ingin menjauhkan kita dari kesengsaraan baik itu hidup atau mati. Tinggal pengemudinya saja, jika mau menaati peraturan akan selamat hidupnya, begitupun sebaliknya. Jika sipengendara tidak mematuhi maka celakalah ia. Jadi jika ingin hidup kita selamat kerjakan apa yang diperintahkan juga jangan coba coba sesekali kita melanggar apa yang telah Ia larang.

Ketiga, saat terdapat pengendara lain mengalami kecelakaan hendaknya kita sebagai pengendara lain ikut mengulurkan tangan kita membantu dan meonlong pengendara itu. Begitupun dengan kehidupan dimasyarakat. Jika seseorang diantara kita yang mengalami musibah baik itu terkena bencana, ataupun melakukan perbuatan maksiat. Hendaknya kita mengingatkan dan saing membantu, hukum alam masih akan terjadi.

Sedikit pesan dari penulis:” kita tidak tau malang akan menjemput kita kapan, sepatutnya kita sebagai makhlukNya senantiasa memohon ampun dengan segala dosa yang kita lakukan disetiap detiknya. Tobat adalah kata yang mudah untuk diucapkan, namun melaksanakan tobat dan segala konsekuensinnya adalah hal terbesar yang sangat sulit untuk dilakukan, berusahalah menjadi orang baik, baik itu benar sedang benar belum tentu baik”.

















Cerpen karangan Widiawati Kholifa seorang penulis kecil yang mempunyai cita-cita tinggi menjadi penulis hebat seperti Asma Nadia. Karya-karya tulisnya yang pernah dipublikaskan antara lain assalamu’alaikum cinta, maafkan aku surya esai redup cahaya disendang gong, esai satu desa berjuta cerita dll, dan beberapa penggalan puisi diantaranya untukmu sang presidenku,gawe negaraku, asa untuk batu dan lain-lain.  Namun hanya dimading dan dan blog pribadinya.

Minggu, 04 November 2018

Asal Usul Desa Selorejo Kecamatan Baureno Kabupaten Bojonegoro Fiksi



Asal Usul Desa Selorejo Fiksi
Selorejo adalah desa di Kecamatan Baureno Kabupaten Bojonegoro. Daerahnya berada di sebelah timur pegunungan kapur Sigit. Nama Selorejo sendiri diambil dari rentetan kejadian di masa lalu hingga dapat terbentuk desa asri satu ini. Berikut asal usul Desa Selorejo.
Dahulu kala ada seorang pengembara bernama Aki Kedot, ia adalah seorang pemimpin kelompok pengembara yang terkenal dengan kecerdikan dan kesaktian ilmunya. Dia mempunyai seorang penasihat yang bernama Aki Gading. Selain Aki Gading, Aki Kedot juga memiliki seorang pengawal yang sangat jujur, ia adalah Aki Klitheh.
Suatu hari, Aki Kedot dan pengawalnya pergi ke sebuah hutan belantara di timur Pegunungan Sigit. Daerahnya loh jinawi, hampir semua tanaman dapat tumbuh subur disana. Hingga pada akhirnya Aki Kedot memutuskan untuk memiliki dan mengumumkan kepada semua orang bahwa tanah yang ditemukannya itu adalah tanah miliknya, karena menurut dia, dialah yang menemukan tanah itu untuk pertama kalinya.
Namun, berita kepemilikan tanah itu terdengar oleh Aki Trojiwo, seorang pemimpin kelompok pengembara lain yang terkenal  arif nan bijaksana yang mengakui juga bahwa dirinyalah yang menemukan daerah yang sangat subur itu untuk pertama kalinya, jauh sebelum kelompok pengembara pimpinan Aki Kedot itu datang. Hal itupun dibenarkan oleh Aki Rubung yang merupakan penasihat Aki Trojiwo, dan juga pengawalnya yang bernama Aki Jenggot. Akan tetapi kebenaran jika Aki Trojiwo yang pertama kali menemukan daerah itu, tidak dapat diterima oleh Aki Kedot. Hingga akhirnya kedua pimpinan kelompok pengembara besar itu sepakat bertemu pada saat bulan purnama tiba, di tengah wilayah daerah yang mereka perebutkan.
Bulan purnamapun tiba. Sengketa tanah diantara kedua kelompok itupun terjadi, mereka bersitegang memperebutkan tanah yang diklaim sama-sama milik mereka. Aki Kedot telah mempersiapkan semuanya, seluruh bala tentaranya dikerahkan untuk perang ini. Aki Trojiwopun tak mau kalah. Ia juga membawa seluruh pasukan khusus yang telah ia ajar sebelumya. Perangpun terjadi.
“Aki, ketahuilah, telah banyak memakan korban atas peperangan diantara aku dan engkau, aku tak mau jika seluruh kelompokku, ataupun anggota kelompokmu binasa sia-sia karena peperangan ini, jikalau memungkinkan, sudahilah peperangan ini dan kita bicarakan masalah ini dengan baik-baik, dengan hati bersih, dengan pikiran yang tenang,” ucap Aki Kedot di tengah peperangan.
“Akupun berpemikiran sama, pertumpah darahan tak akan menyelesaikan sebuah masalah, karena kebencian berlandaskan dendam tak akan membawa hidup dalam ketenangan, ya sudah apa keinginanmu?” jawab Aki Trojiwo dengan bijaksana.
Mereka berduapun bersepakat untuk melakukan perjanjian yang isinya “Bahwa masing-masing kelompok untuk babat alas dalam waktu satu bulan (tepatnya pada malam bulan purnama selanjutnya), siapa yang memperoleh wilayah paling luas maka dia yang berhak atas wilayah tersebut.”
Haripun silih berganti, hasil pembabatan hutanpun sudah mulai terlihat. Ini adalah hari ke 10 mereka bekerja. Namun, ada yang terlihat aneh, asap membumbung begitu tebal dari hutan belantara di kawasan Baureno itu. Dan benar, itu adalah ulah Aki Kedot. Dia menggunakan akal cerdiknya untuk mendapatkan daerah kekuasaannya itu dengan cara membakar hutan. Sedang Aki Trojiwo dan kelompoknya yang membabat hutan dengan cara menggunakan alat sekadarnya dibuat kebingungan. Bagaimana tidak?. Hampir seperempat dari hutan itu telah terbakar. Untuk menangkal api yang teruslah mengobar, maka Aki Trojiwopun membuat sebuah parit kecil.
Bulan purnamapun tiba. Kedua kelompokpun berkumpul untuk membagi daerah kekusaan mereka. Dengan hasil yang begitu luas namun tidak subur karena gersang terbakar, maka Aki Kedot berhak atas wilayah tersebut. Namun, Aki Trojiwo menyangkal jika tanah yang didapatkan oleh Aki Kedot tidak sah, dan melanggar aturan. Sebab api yang menjalar akibat pembakaran hutan belum sepenuhnya padam dalam waktu satu bulan. Setelah terjadi adu mulut akhirnya diadakan perundingan lagi dan hasilnya wilayah tersebut dibagi menjadi dua, hasil pembakaran hutan sebagai wilayah Aki Kedot, dan hasil babatan sebagai hasil Aki Trojiwo dengan batas parit yang telah dibuat oleh kelompoknya.
Karena sudah punya wilayah masing-masing maka tiba musim tanam di wilayah Aki Kedot tanaman sulit tumbuh karena tanahnya kering dan berkerikil sehingga hasil tanamnya kurang memuaskan dan sedikit bergerombol pating tleming, tidak semua tanahnya subur untuk lahan bercocok tanam neser-neserno. Maka dari hal itu Aki Kedot memberi nama wilayahnya dengan nama ”Srening”. Lain halnya dengan wilayah Aki Trojiwo, segala jenis tanaman bisa tumbuh dengan subur dan lebat walaupun tanpa pupuk seperti lebatnya jenggot, maka wilayahnya diberi nama ”Jenggot”.
Seiring berjalannya waktu kedua pemimpin sepakat untuk menggabungkan kedua wilayahnya, tapi yang menjadi persoalan adalah masing-masing berebut ingin menjadi pemimpin. Maka diadakan pertemuan dan akhirnya diadakan sayembara adu jago, maka keduanya mulai mempersiapkan jagonya. Pihak Jenggot dengan botohnya Aki Rubung dan pihak Srening dengan botoh Aki Kliteh. Dari adu jago tersebut ternyata ayam Aki Kliteh kalah dan lari klubukan kemudian bersembunyi atau delik untuk itu wilayahnya sampai sekarang bernama Dusun Klubuk dan Dusun Delik. Sedangkan padepokan Aki Kliteh menjadi Dusun Kliteh, sementara itu Padepokan Aki Rubung menjadi Dusun Krubung. Karena kekalahan adu jago tersebut akhirnya Aki Kliteh pergi ke daerah Lamongan, dan akibat kekalahan tersebut Aki Kedot sendiko dawuh pada Aki Trojiwo.
Aki Trojowo membuat kebijakan bahwa Srening menjadi dukuhan dan sebagai krajan yaitu  Jenggot, agar tidak terpecah lagi para pemimpin memberi nama ”Selorejo”. Selo di ambil dari wilayah Srening yang tekstur tanahnya bebatuan (sélo), dan Rejo diambil dari wilayah Jenggot  yang tanahnya subur makmur. Sesuai perjanjian maka tampuk kepemimpinan dipegang oleh Aki Trojiwo, dan Aki Kedot sebagai pimpinan Dusun Srening.























Biodata Pengarang
Nama                           : Widiawati Kholifa
Asal Sekolah               : SMK NASIONAL Baureno
Tempat, tanggal lahir  : Bojonegoro, 28 Mei 2001
Alamat                                    : Desa Gajah, RT 03 RW 03 Kecamatan Baureno Kabupaten
Status                          : Pelajar kelas XII Admininstrasi Perkantoran
FB                               : Widiawati Kholifa
No. Telp.                     : 085233559301

Cerpen Cinta Keluarga



CAHAYA LISA
Oleh : Widiawati Kholifa
Senja telah mengutuk gadis itu dalam kesendirian. Lisa namanya. Ia adalah seorang tuna netra kecil. Dalam hidupnya hanya ada malam. Sedang pagi, siang, sore ataupun senja pergi entah kemana. Seperti mereka tak mau berteman dengan Lisa.
“Lisa, ayo nak sholat isya dengan bunda, ini sudah terlalu malam untuk anak seusia kamu di luar.” ajak bunda Lisa.
“Biarkan tubuh Lisa yang kecil ini menemani malam yang sendiri.” terang Lisa.
“Malam sudah ada yang menemani, Lisa.” sahut bunda.
“Siapa itu bun?.” tanya lisa penasaran.
“Cahaya bintang dan sang bulan Lisa, yang sendiri hanyalah bunda, kamu maukan jadi teman bunda?.” jawab Bunda
“Iya bun, akan aku temani bunda di dunia  bahkan hingga di surga nanti”.
            Tina sangat sabar merawat Lisa. Dengan sekuat tenaga ia akan terus menyemangati Lisa dalam kegelapan. Meskipun sendiri. Suaminya yang dulu sangat sayang kepada Tina. Pergi, entah kemana. Sejak kelahiran sang bidadari kecil nan cantik ”Lisa”. Dirinya yang rapuh selalu ingin berserah. Namun, senyum sang bidadari kecilnya selalu menyemangatinya dalam keadaan apapun.
Fajar telah berpulang, pagi yang menjemputnya. Entah kapankah pagi membawa fajar kembali. Nanti, Mungkin nanti. Itulah yang Tina harapkan sampai saat ini. Kepulangan akan suami, yang pergi “Bagai batu jatuh ke lubuk”.
“Bun, ini sudah pagi ya?.” tanya Lisa yang mulai beranjak dari dipan kamar tidurnya. Walaupun Lisa belum pernah sama sekali melihat pagi, tapi ia dapat merasakan akan hangatnya sang mentari pagi.
“Ehh bidadari kecil bunda ternyata udah bangun. Pasti semangat ke sekolah hari ini ya?.” jawab bunda yang sedang membuka korden jendela kamar Lisa.
Di setiap pagi Tina selalu berdoa, akan cahaya cerah yang menghiasi kelopak mata anak semata wayangnya itu. Dalam desahnya Tina menyisipkan doa pagi untuk Lisa.
 “Tuhan pagi ini begitu cerah, senyum alam menemani kesejukan pagi ini. Andai saja Lisa dapat membuka kelopak matanya dan melihat indahnya pagi ini. Pasti ia sekarang sudah berada di taman mengejar kupu-kupu bersayap biru. Yang selalu      ia dambakan kehadiran sosoknya dalam gelapnya lentera kehidupannya. Kumohon Tuhan berikanlah sinar itu pada Lisa”
            Tina menyiapkan sarapan dan bekal untuk Lisa. Ia juga harus membereskan seluruh ruangan di rumahnya. Terasa berat di punggungnya untuk memikul beban itu sendiri, lantas jika bukan dirinya sendiri siapa lagi?.
            Tina mengantarkan Lisa ke Sekolah Luar Biasa di daerahnya. Tina harus menempuh jarak 3 Km dari rumahnya dengan menggunakan sepeda mini dengan waktu sekitar satu jam-an untuk dapat sampai ke sekolah Lisa itu. Selain gratis, Lisa juga tidak akan malu beradaptasi dengan lingkungannya yang sama-sama mempunyai keterbatasan fisik.
            Sebelum meninggalkan Lisa sendiri, Tina selalu melihat perkembangan Lisa di sekolah. Tidak terlalu pesat memang, namun setidaknya ada ilmu baru yang Lisa dapatkan setiap harinya. Perlahan Lisa menirukan huruf demi huruf yang dilontarkan oleh ibu gurunya. Walaupun Lisa tidak dapat melihat mimik wajah sang guru saat mengajar, namun Lisa cukup pandai karena ia menggunakan kepekaan hati, ketulusan hati sang guru saat mengajarnya menjadikan Lisa terpacu untuk terus belajar walaupun itu sangatlah sulit baginya.
            Jika Tina merasa Lisa sudah beradaptasi dengan lingkugannya, maka Tina akan pergi bekerja ke sebuah kantor swasta. Ada perasaan aneh memang saat ia akan masuk ke kantor itu, karena kantor itu adalah saksi dimana cinta Tina dan sang suami mulai tumbuh dan berkembang sedimikian hingga. Ada rasa sesak dan kesedihan yang luar biasa, namun bagaimana lagi, ia harus menghidupi dirinya sendiri dan bidadari kecilnya, “Lisa”.
            Saat jam istirahat, Tina akan meminta izin ke kepala kantornya untuk menjemput Lisa. Kepala kantornya sebelumnya sudah mengetahui keadaan Tina. Dengan kelapangan hati, kepala kantor selalu mengizinkan Tina. Selain ulet , pekerjaan Tina yang tidak pernah mengecewakan, membuat  kepala kantor selalu mempertahankan pegawainya yang tekun itu.
            Sesampainya di sekolah Lisa, Tina berkonsultasi layaknya seorang pasien dengan dokter kepada guru Lisa, bagaimana perkembangan Lisa di sekolah. Hal itu rutin dilakukan Tina supaya ia mengetahui secara pasti keadaan dan perkembangan langsung Lisa. Sedang Lisa di luar, sedang meraba buku yang ia dapatkan tadi dari salah seorang gurunya yang juga penderita tuna netra sepertinya. Buku yang didapatkan Lisa bukan sembarang buku. Buku itu khusus diperuntukkan bagi pembaca tuna netra yang berisikan abjad yang cukup besar yang ditulis timbul sehingga pembaca hanya meraba dan mengeja huruf demi huruf dalam buku itu.
            “Lisa lagi baca buku apa?.” tanya bunda yang telah selesai berkonsultasi dengan guru Lisa.
            “Buku cerita keislaman dari guru favorit Lisa bu.” jawab Lisa dengan keluguannya.
            “Baca bukunya dilanjut nanti ya, kalau sudah sampai rumah. Ayo kita pulang.“ ajak Tina kepada Lisa.
            “Baik bunda. Siappp!!!.” ucap Lisa mengiyakan.
            Di sepanjang jalan Lisa bernyanyi, menitipkan sejenak bebannya kepada nada-nada pengiring jalannya. Bibir mungilnya yang bernyanyi acap kali terdapat kesalahan-kesalahan yang membuat Tina merasa geli, dan selalu membetulkan lirik lagu Lisa yang salah.
            Tidak terasa mereka telah sampai di rumah. Setelah Tina menjagang sepedanya ia segera menurunkan Lisa jangan sampai Tina membiarkan Lisa turun sendiri dan terjatuh. Ia tak mau jika buah hati kecilnya itu menangis.
            “Lisa di rumah saja ya, jangan kemana-mana, nanti Insya Allah kalau tidak ada halangan, ada Eyang Kung dan Eyang Uti datang ke rumah. Lisa main di rumah saja ya.” pinta Tina kepada anak semata wayangnya itu.
            “Baik bunda, Lisa akan menuruti apa kata bunda.” sahut Lisa
            “Jaga rumah baik-baik ya sayang, bunda kerja dulu. Assalamu’alaikum.” ucap Tina mengecup kening Lisa.
            “Ya bun, Wa’alaikumsalam hati-hati di jalan ya bun.” jawab Lisa.
            “Ya sayang…” jawab Tina dari kejauhan.
            Lisa mendengar suara itu dari kejauhan, ia menyadari jika ibundanya telah pergi bekerja, untuk mencukupi kebutuhan mereka yang semakin hari semakin bertambah. Kini Lisa sendiri di rumah, ibunya sudah pergi, ia akan selalu mengingat dan mematuhi pesan bundanya tadi. Untuk selalu di rumah dan menanti kehadiran Eyang Kung dan Eyang Uti yang sangat ia rindukan akhir-akhir ini. Biasanya kakek dan neneknya Lisa itu datang satu bulan sekali untuk menemui cucunya itu, namun dua bulan terakhir ini mereka tidak pernah datang ke rumah Lisa.
            Diambilnya buku cerita yang ia baca tadi di sekolah. Tepat pada halaman 10 ia membaca, diejanya huruf demi huruf yang termuat dalam buku yang berwarna kuning itu secara perlahan.
            “Assalamu’alaikum.” ucap seseorang dari luar rumah yang sepertinya adalah seorang lelaki.
            “Wa’alaikumsalam.” jawab Lisa sambil mencari tongkat yang ia taruh disamping tempat duduknya. Ia sengaja membiarkan tamunya itu berada di luar rumah. Lisa berjalan perlahan menghampiri laki-laki itu dan bertanya.
            “Apakah saya mengenal Anda sebelumnya?, Anda siapa.”
            “Adek siapa?” tanya lelaki itu kembali.
            “Saya Lisa.” jawab Lisa lembut.
            “Kamu Lisa, putriku !!!” sahut lelaki itu dengan nada haru.
            “Lisa…!!!!, ini ayah sayang, ayah kamu!!!!”. Lagi, dipeluknya Lisa langsung.
            Pelukan itu sangat erat, tulus seperti ketulusan seorang ayah menyayangi anaknya, ketulusan inilah yang menjadi penantian Lisa, pelukan pelebur rindu dari rindu ayah. Namun Lisa tidak boleh  gegabah. Ia harus segera melepaskan pelukan itu dan mendorong laki –laki yang tidak dikenalnya itu.
            “Kenapa kau melepaskan pelukan ayah nak…?.” tanya laki-laki yang mengaku sebagai ayah Lisa itu.
            “Maaf pak, Lisa tidak mengenal bapak.” ucap Lisa agak ketus.
            “Baik, ayah mengerti sifat bundamu, memang bundamu sangatlah cerdas menjagamu, merawatmu hingga sebesar ini. ayah kangen sama Lisa.” jawab lelaki itu  mengisak.
            Ditengah perbincangan antara ayah dan anak itu, Tina datang dengan tergopoh-gopoh menghampiri Lisa yang kebingungan. Firasat seorang ibu kepada anaknyalah yang membawa Tina kembali pulang untuk memastikan kondisi Lisa yang sebenarnya. Dilihatnya Mas Hari datang ke rumahnya lagi setelah sembilan tahun dirinya pergi. Tina tak mau Lisa ikut campur dalam masalah ini, karena masalah ini  cukup sensitif untuk anak sebayanya.
            “Lisa sekarang masuk ya nak, Lisa tidak kenal sama orang ini. Biar bunda yang menyelesaikan urusan ini”. Pinta Tina pada Lisa
            Ini cukup berat bagi Tina. Luka yang telah kering sebelumnya harus tersayat kembali oleh kedatangan sang suami. Sembilan tahun suaminya itu meninggalkan dirinya, dengan keadaan Lisa yang sangat memprihatinkan. Sangat sekali butuh semangat dari orang-orang terdekatnya, seperti ayahnya.
             Puncak emosi Tina sudah berada di ubun-ubun kepalanya. Tak tahan lagi ia pendam. Amarahnya ingin ia luapkan pada suaminya itu kini. Di depan matanya. Kasihnya yang ia puja dulu. Ditariknya nafas dalam-dalam, dan dibuangnya kini. Ia memulai pembicaraannya pada suaminya itu.
            “Ada apa mas kesini?.” tanya Tina dingin.
            “Aku ingin bertemu dengan Lisa. Aku ingin tahu kabar Lisa.” jawab Mas Hari tegas.
            “Setelah sembilan tahun mas pergi tanpa kabar, dan aku relakan kamu bertemu Lisa?, maaf tak semudah itu mas.”
            “Maafkan aku Tina, aku tahu aku salah, aku pergi tanpa kabar, tapi aku bisa jelaskan semua pada kamu.”
            “Tidak ada yang perlu dijelaskan mas, sembilan tahun adalah waktu yang cukup untuk menjelaskan mengapa kamu pergi.” ucap Tina menahan isak.
            “Jangan jadikan keegoisanmu itu menjadi penghalang bagi Lisa untuk dapat berjumpa dengan ayahnya, Lisa butuh kasih sayang dari ayahnya.” Mas Hari membela diri. Berharap mendapatkan respon positif dari ucapannya barusan.
            “Kamu bilang aku egois mas, apa aku nggak salah dengar?. Bukannya mas yang egois, meninggalkan aku sendiri, melahirkan Lisa sendiri, merawatnya. Peluhku, air mataku, tlah habis untuk Lisa, untuk menghidupi Lisa. Lagi pula Lisa tak butuh kasih sayang dari seorang ayah pengecut seperti mas. Bundanya tak lebih lemah dari ayahnya. Aku bisa sendiri dan terbiasa sendiri. Sekali lagi maaf.” Air mata Tina tak tertahan lagi untuk dikeluarkan, di ujung kelopak matanya yang berbinar butiran bening itu mulai jatuh. Meski hanya satu atau dua tetes saja ini adalah air mata kesedihan, kepiluan.
            “Baiklah jika itu maumu, akan kuturuti. Setidaknya aku tadi telah melihat kondisi Lisa, aku akan pergi, ini demi kebaikan Lisa.” jawab Mas Hari mengalah.
            “Pilihan yang baik, pergilah, jangan kau datang hanya untuk menyakiti kami lagi, kami sudah tak lebih dari sakit”.
            Tina menangis sejadi-jadinya, meskipun di depan suaminnya tadi ia berusaha tegar. Menahan dirinya yang sebenarnya rapuh, karena Ia hanya seorang wanita biasa, penuh dengan kelembutan juga keanggunan. Kondisilah yang membuatnya lebih kuat, lebih berani, dan lebih tegar dari wanita lain. Selebihnya, fitrahnya sebagai seorang wanita menuntun perasaannya untuk menangis meluluhkan bebannya lewat cucuran air matanya yang ia keluarkan dari kelopak matanya yang manis.

1 tahun kemudian….
           
            Entah Tina habis mimpi apa semalam, ia bak mendapatkan durian runtuh, hatinya berbunga-bunga setelah ia mendapat kabar dari dokter mata, bahwa ada seorang pendonor mata yang siap mendonorkan matanya untuk Lisa. Secara percuma, dan pendonor itupun membiayai seluruh biaya operasi Lisa. Dan operasi mata Lisa akan dilaksanakan 1 minggu lagi. Semoga operasinya berjalan dengan lancar. Aminn.
1 minggu kemudian
            Ini adalah hari dimana Lisa akan dioperasi, di Rumah Sakit Cahaya tepatnya. Tidak jauh dari tempat Lisa dan Tina tinggal, hanya berjarak 5 KM-an. Tina ditemani ibu dan ayahnya yang juga merupakan nenek dan kakek Lisa mengantarkan Lisa. Lisa yang tampaknya sangat tak sabar menanti kedatangan cahayanya itu terlihat sumringah, wajahnya beseri-seri.
            Sebenarnya Tina tidak tau siapa orang yang telah mendonorkan kedua bola matanya untuk dititipkan kepada anaknya itu. Dokter yang menangani operasi mata Lisa merahasiakan hal itu, karena orang yang merelakan kedua matanya untuk dititipkan kepada Lisa itu yang memintanya. Dalam hatinya Tina hanya dapat berdoa untuk kebaikan orang yang telah memberikan cahaya pada Lisa, anaknya.
***
            Lantunan doa tak pernah berhenti Tina panjatkan untuk kesembuhan Lisa. Sudah 6 jam-an Lisa dioperasi, namun belum ada kabar tentang kondisi Lisa, Tina resah dengan hal itu, kakinya tak bisa ia diamkan, mondar-mandir di depan pintu ruang operasi.
            Dokter keluar dengan raut bahagia. Mungkin operasinya dapat berjalan dengan lancar. Batin Tina berprasangka baik dengan keadaan.
            “Alhamdulillah operasi Lisa berjalan dengan lancar meskipun tadi menemui sedikit masalah.”
            “Terimakasih dokter, apakah saat ini saya bisa menemui Lisa?” tanya Tina pada dokter.
            “Untuk saat ini Lisa masih butuh istirahat yang cukup, dan masih ada beberapa kali operasi lanjutan, untuk memastikan bahwa mata Lisa dapat berfungsi dengan baik, sebaiknya ibu sekarang tenang dan berdoa yang terbaik untuk operasi lanjutan Lisa”.
            Tangis Tina tak mampu ia bendung, cucuran air mata mengalir deras di pelupuknya. Ibu dan ayah Tina  yang berada di samping Tina mencoba menguatkan Tina, membangkitkan kembali semangat Tina untuk Lisa. Ini demi Lisa, demi cahaya Lisa. Dikuatkan lagi hatinya.
***
            Ini adalah hari yang paling ditungggu oleh Lisa, Bundanya, Eyang Uti juga Eyang Kakungnya. Semua berdoa untuk kesembuhan Lisa. Lisa sangatlah tak sabar melihat betapa indahnya wajah dunia barunnya. Wajah dunia yang sebelumnya hanya ia mimpikan, hanya dapat ia raba dengan indra perabanya saja. Akan ia lihat beberapa detik lagi oleh indra penglihatannya yang baru. Dengan begitu indahnya dunia akan terasa sempurna, karena panca indranya akan berfungsi dengan baik, menjadi anak-anak biasa, tanpa ada perbedaan lagi.
            Perlahan balutan kasa itu dibuka oleh dokter. Tina, eyang uti juga eyang kakung Lisa harap-harap cemas dengan hasil operasi berturut-turut yang dilalui Lisa. Betapa kecewanya Lisa jika operasi matanya ini gagal. Semoga itu tidak terjadi pada Lisa hari ini. Doa dari orang-orang terdekat Lisa yang menguatkan Lisa.
            Ini adalah balutan terakhir yang dibuka oleh dokter. Semakin mencekam keadaan dalam ruangan bercat hijau itu. Suara denting jam rupanya dapat terdengar jelas oleh seisi ruangan. Sungguh-sungguh tegang, Tina yang memegang tangan ibunya berkeringat dingin. Dan…..
            Suasana semakin hening. Dilihat oleh Lisa, kanan… kiri…. Seluruh orang yang memenuhi isi ruangan itu. Buram, belum nampak  jelas.
            “ Lisa sekarang bisa lihat atau tidak sayang?” tanya dokter kepada Lisa.
            “ Buram dokk… Lisa belum bisa lihat siapapun” jawab Lisa apa adanya.
            Kalimat Lisa barusan, menjatuhkan Tina, menyungkurkan Tina yang semula benar-benar jatuh. Akankah cahaya benar-benar tidak diperuntukkan untuk Lisa?. Pertanyaan itu terus membelenggu dalam hati Tina mengikat erat tak terlepaskan, menyesakkan dadanya yang semula baik-baik saja.
            “ Bunda……???, aku bisa melihat bunda… Lisa bisa melihat bundaaa!!!” ujar Lisa dengan keluguannya.
            Ikatan yang semula menyesakkan dada Tina sedikit terlepas. Semoga Lisa benar-benar dapat melihat.
            “ Lisa bisa melihat sayang… sekarang coba lihat tangan dokter jari tangan dokter ada berapa sayang?” tanya dokter perlahan.
            “ Du… dua kan dokter!!!.” jawab Lisa semangat.
            Dan benar… sekarang  Tina benar-benar lega. Lega sekali, haru bahagia sepertinya sekarang ia. Tak dapat diucapkan dengan kata-kata, lidahnya seakan kelu. Ia hanya dapat bersyukur kepada Tuhan Sang Pemberi Hidup atas cahaya Lisa.
            “ Lisa benar-benar anak yang pintar!!!.” jawab dokter menyemangati Lisa.
            Dipeluknya Lisa erat-erat oleh Tina. Lagi-lagi Tina menangis, namun ia berjanji ini adalah tangisan yang terakhir dalam hidupnya, selebihnya air matanya ia titipkan kepada sang awan. Karena yang boleh menangis adalah awan agar menjadi hujan penyejuk alam.
            “ Terimakasih Tuhan, Kau tlah berikan kepada kami kenikmatan terbesar yang pernah ada dalam keluarga kecil kami. Ya, aku dan Lisa.”
            Kebahagiaan telah menyelimuti keluarga kecil nan sederhana itu. Cahaya yang diidam-idamkan oleh Lisa sekarang telah benar-benar ia dapatkan. Tanpa ia tahu bahwa ayahnyalah yang memberikan cahaya itu pada Lisa. Karena cahaya Lisa diperuntukkan untuk Lisa, hanya Untuk Lisa.