CAHAYA LISA
Oleh : Widiawati Kholifa
Senja
telah mengutuk gadis itu dalam kesendirian. Lisa namanya. Ia adalah seorang
tuna netra kecil. Dalam hidupnya hanya ada malam. Sedang pagi, siang, sore
ataupun senja pergi entah kemana. Seperti mereka tak mau berteman dengan Lisa.
“Lisa,
ayo nak sholat isya dengan bunda, ini sudah terlalu malam untuk anak seusia
kamu di luar.” ajak bunda Lisa.
“Biarkan
tubuh Lisa yang kecil ini menemani malam yang sendiri.” terang Lisa.
“Malam
sudah ada yang menemani, Lisa.” sahut bunda.
“Siapa
itu bun?.” tanya lisa penasaran.
“Cahaya
bintang dan sang bulan Lisa, yang sendiri hanyalah bunda, kamu maukan jadi
teman bunda?.” jawab Bunda
“Iya
bun, akan aku temani bunda di dunia
bahkan hingga di surga nanti”.
Tina sangat sabar merawat Lisa.
Dengan sekuat tenaga ia akan terus menyemangati Lisa dalam kegelapan. Meskipun
sendiri. Suaminya yang dulu sangat sayang kepada Tina. Pergi, entah kemana.
Sejak kelahiran sang bidadari kecil nan cantik ”Lisa”. Dirinya yang rapuh
selalu ingin berserah. Namun, senyum sang bidadari kecilnya selalu
menyemangatinya dalam keadaan apapun.
Fajar
telah berpulang, pagi yang menjemputnya. Entah kapankah pagi membawa fajar
kembali. Nanti, Mungkin nanti. Itulah yang Tina harapkan sampai saat ini.
Kepulangan akan suami, yang pergi “Bagai batu jatuh ke lubuk”.
“Bun,
ini sudah pagi ya?.” tanya Lisa yang mulai beranjak dari dipan kamar tidurnya.
Walaupun Lisa belum pernah sama sekali melihat pagi, tapi ia dapat merasakan
akan hangatnya sang mentari pagi.
“Ehh
bidadari kecil bunda ternyata udah bangun. Pasti semangat ke sekolah hari ini
ya?.” jawab bunda yang sedang membuka korden jendela kamar Lisa.
Di
setiap pagi Tina selalu berdoa, akan cahaya cerah yang menghiasi kelopak mata
anak semata wayangnya itu. Dalam desahnya Tina menyisipkan doa pagi untuk Lisa.
“Tuhan pagi ini begitu cerah, senyum alam
menemani kesejukan pagi ini. Andai saja Lisa dapat membuka kelopak matanya dan
melihat indahnya pagi ini. Pasti ia sekarang sudah berada di taman mengejar
kupu-kupu bersayap biru. Yang selalu ia
dambakan kehadiran sosoknya dalam gelapnya lentera kehidupannya. Kumohon Tuhan berikanlah
sinar itu pada Lisa”
Tina menyiapkan sarapan dan bekal
untuk Lisa. Ia juga harus membereskan seluruh ruangan di rumahnya. Terasa berat
di punggungnya untuk memikul beban itu sendiri, lantas jika bukan dirinya
sendiri siapa lagi?.
Tina mengantarkan Lisa ke Sekolah
Luar Biasa di daerahnya. Tina harus menempuh jarak 3 Km dari rumahnya dengan
menggunakan sepeda mini dengan waktu sekitar satu jam-an untuk dapat sampai ke
sekolah Lisa itu. Selain gratis, Lisa juga tidak akan malu beradaptasi dengan
lingkungannya yang sama-sama mempunyai keterbatasan fisik.
Sebelum meninggalkan Lisa sendiri,
Tina selalu melihat perkembangan Lisa di sekolah. Tidak terlalu pesat memang,
namun setidaknya ada ilmu baru yang Lisa dapatkan setiap harinya. Perlahan Lisa
menirukan huruf demi huruf yang dilontarkan oleh ibu gurunya. Walaupun Lisa
tidak dapat melihat mimik wajah sang guru saat mengajar, namun Lisa cukup
pandai karena ia menggunakan kepekaan hati, ketulusan hati sang guru saat
mengajarnya menjadikan Lisa terpacu untuk terus belajar walaupun itu sangatlah
sulit baginya.
Jika Tina merasa Lisa sudah beradaptasi
dengan lingkugannya, maka Tina akan pergi bekerja ke sebuah kantor swasta. Ada
perasaan aneh memang saat ia akan masuk ke kantor itu, karena kantor itu adalah
saksi dimana cinta Tina dan sang suami mulai tumbuh dan berkembang sedimikian hingga.
Ada rasa sesak dan kesedihan yang luar biasa, namun bagaimana lagi, ia harus
menghidupi dirinya sendiri dan bidadari kecilnya, “Lisa”.
Saat jam istirahat, Tina akan
meminta izin ke kepala kantornya untuk menjemput Lisa. Kepala kantornya
sebelumnya sudah mengetahui keadaan Tina. Dengan kelapangan hati, kepala kantor
selalu mengizinkan Tina. Selain ulet , pekerjaan Tina yang tidak pernah
mengecewakan, membuat kepala kantor
selalu mempertahankan pegawainya yang tekun itu.
Sesampainya di sekolah Lisa, Tina
berkonsultasi layaknya seorang pasien dengan dokter kepada guru Lisa, bagaimana
perkembangan Lisa di sekolah. Hal itu rutin dilakukan Tina supaya ia mengetahui
secara pasti keadaan dan perkembangan langsung Lisa. Sedang Lisa di luar,
sedang meraba buku yang ia dapatkan tadi dari salah seorang gurunya yang juga
penderita tuna netra sepertinya. Buku yang didapatkan Lisa bukan sembarang
buku. Buku itu khusus diperuntukkan bagi pembaca tuna netra yang berisikan
abjad yang cukup besar yang ditulis timbul sehingga pembaca hanya meraba dan
mengeja huruf demi huruf dalam buku itu.
“Lisa lagi baca buku apa?.” tanya
bunda yang telah selesai berkonsultasi dengan guru Lisa.
“Buku cerita keislaman dari guru
favorit Lisa bu.” jawab Lisa dengan keluguannya.
“Baca bukunya dilanjut nanti ya,
kalau sudah sampai rumah. Ayo kita pulang.“ ajak Tina kepada Lisa.
“Baik bunda. Siappp!!!.” ucap Lisa
mengiyakan.
Di sepanjang jalan Lisa bernyanyi,
menitipkan sejenak bebannya kepada nada-nada pengiring jalannya. Bibir mungilnya
yang bernyanyi acap kali terdapat kesalahan-kesalahan yang membuat Tina merasa
geli, dan selalu membetulkan lirik lagu Lisa yang salah.
Tidak terasa mereka telah sampai di
rumah. Setelah Tina menjagang sepedanya ia segera menurunkan Lisa jangan sampai
Tina membiarkan Lisa turun sendiri dan terjatuh. Ia tak mau jika buah hati
kecilnya itu menangis.
“Lisa di rumah saja ya, jangan
kemana-mana, nanti Insya Allah kalau tidak ada halangan, ada Eyang Kung dan Eyang
Uti datang ke rumah. Lisa main di rumah saja ya.” pinta Tina kepada anak semata
wayangnya itu.
“Baik bunda, Lisa akan menuruti apa
kata bunda.” sahut Lisa
“Jaga rumah baik-baik ya sayang,
bunda kerja dulu. Assalamu’alaikum.” ucap Tina mengecup kening Lisa.
“Ya bun, Wa’alaikumsalam hati-hati di
jalan ya bun.” jawab Lisa.
“Ya sayang…” jawab Tina dari
kejauhan.
Lisa mendengar suara itu dari
kejauhan, ia menyadari jika ibundanya telah pergi bekerja, untuk mencukupi
kebutuhan mereka yang semakin hari semakin bertambah. Kini Lisa sendiri di
rumah, ibunya sudah pergi, ia akan selalu mengingat dan mematuhi pesan bundanya
tadi. Untuk selalu di rumah dan menanti kehadiran Eyang Kung dan Eyang Uti yang
sangat ia rindukan akhir-akhir ini. Biasanya kakek dan neneknya Lisa itu datang
satu bulan sekali untuk menemui cucunya itu, namun dua bulan terakhir ini
mereka tidak pernah datang ke rumah Lisa.
Diambilnya
buku cerita yang ia baca tadi di sekolah. Tepat pada halaman 10 ia membaca,
diejanya huruf demi huruf yang termuat dalam buku yang berwarna kuning itu
secara perlahan.
“Assalamu’alaikum.” ucap seseorang
dari luar rumah yang sepertinya adalah seorang lelaki.
“Wa’alaikumsalam.” jawab Lisa sambil
mencari tongkat yang ia taruh disamping tempat duduknya. Ia sengaja membiarkan
tamunya itu berada di luar rumah. Lisa berjalan perlahan menghampiri laki-laki
itu dan bertanya.
“Apakah saya mengenal Anda
sebelumnya?, Anda siapa.”
“Adek siapa?” tanya lelaki itu
kembali.
“Saya Lisa.” jawab Lisa lembut.
“Kamu Lisa, putriku !!!” sahut
lelaki itu dengan nada haru.
“Lisa…!!!!, ini ayah sayang, ayah
kamu!!!!”. Lagi, dipeluknya Lisa langsung.
Pelukan itu sangat erat, tulus seperti
ketulusan seorang ayah menyayangi anaknya, ketulusan inilah yang menjadi
penantian Lisa, pelukan pelebur rindu dari rindu ayah. Namun Lisa tidak
boleh gegabah. Ia harus segera
melepaskan pelukan itu dan mendorong laki –laki yang tidak dikenalnya itu.
“Kenapa kau melepaskan pelukan ayah
nak…?.” tanya laki-laki yang mengaku sebagai ayah Lisa itu.
“Maaf pak, Lisa tidak mengenal bapak.”
ucap Lisa agak ketus.
“Baik, ayah mengerti sifat bundamu,
memang bundamu sangatlah cerdas menjagamu, merawatmu hingga sebesar ini. ayah
kangen sama Lisa.” jawab lelaki itu mengisak.
Ditengah perbincangan antara ayah
dan anak itu, Tina datang dengan tergopoh-gopoh menghampiri Lisa yang
kebingungan. Firasat seorang ibu kepada anaknyalah yang membawa Tina kembali pulang
untuk memastikan kondisi Lisa yang sebenarnya. Dilihatnya Mas Hari datang ke
rumahnya lagi setelah sembilan tahun dirinya pergi. Tina tak mau Lisa ikut
campur dalam masalah ini, karena masalah ini
cukup sensitif untuk anak sebayanya.
“Lisa sekarang masuk ya nak, Lisa
tidak kenal sama orang ini. Biar bunda yang menyelesaikan urusan ini”. Pinta
Tina pada Lisa
Ini cukup berat bagi Tina. Luka yang
telah kering sebelumnya harus tersayat kembali oleh kedatangan sang suami.
Sembilan tahun suaminya itu meninggalkan dirinya, dengan keadaan Lisa yang
sangat memprihatinkan. Sangat sekali butuh semangat dari orang-orang
terdekatnya, seperti ayahnya.
Puncak emosi Tina sudah berada di ubun-ubun
kepalanya. Tak tahan lagi ia pendam. Amarahnya ingin ia luapkan pada suaminya
itu kini. Di depan matanya. Kasihnya yang ia puja dulu. Ditariknya nafas
dalam-dalam, dan dibuangnya kini. Ia memulai pembicaraannya pada suaminya itu.
“Ada apa mas kesini?.” tanya Tina
dingin.
“Aku ingin bertemu dengan Lisa. Aku
ingin tahu kabar Lisa.” jawab Mas Hari tegas.
“Setelah sembilan tahun mas pergi
tanpa kabar, dan aku relakan kamu bertemu Lisa?, maaf tak semudah itu mas.”
“Maafkan aku Tina, aku tahu aku
salah, aku pergi tanpa kabar, tapi aku bisa jelaskan semua pada kamu.”
“Tidak ada yang perlu dijelaskan
mas, sembilan tahun adalah waktu yang cukup untuk menjelaskan mengapa kamu
pergi.” ucap Tina menahan isak.
“Jangan jadikan keegoisanmu itu
menjadi penghalang bagi Lisa untuk dapat berjumpa dengan ayahnya, Lisa butuh
kasih sayang dari ayahnya.” Mas Hari membela diri. Berharap mendapatkan respon
positif dari ucapannya barusan.
“Kamu bilang aku egois mas, apa aku
nggak salah dengar?. Bukannya mas yang egois, meninggalkan aku sendiri,
melahirkan Lisa sendiri, merawatnya. Peluhku, air mataku, tlah habis untuk
Lisa, untuk menghidupi Lisa. Lagi pula Lisa tak butuh kasih sayang dari seorang
ayah pengecut seperti mas. Bundanya tak lebih lemah dari ayahnya. Aku bisa
sendiri dan terbiasa sendiri. Sekali lagi maaf.” Air mata Tina tak tertahan
lagi untuk dikeluarkan, di ujung kelopak matanya yang berbinar butiran bening
itu mulai jatuh. Meski hanya satu atau dua tetes saja ini adalah air mata
kesedihan, kepiluan.
“Baiklah jika itu maumu, akan
kuturuti. Setidaknya aku tadi telah melihat kondisi Lisa, aku akan pergi, ini
demi kebaikan Lisa.” jawab Mas Hari mengalah.
“Pilihan yang baik, pergilah, jangan
kau datang hanya untuk menyakiti kami lagi, kami sudah tak lebih dari sakit”.
Tina menangis sejadi-jadinya,
meskipun di depan suaminnya tadi ia berusaha tegar. Menahan dirinya yang
sebenarnya rapuh, karena Ia hanya seorang wanita biasa, penuh dengan kelembutan
juga keanggunan. Kondisilah yang membuatnya lebih kuat, lebih berani, dan lebih
tegar dari wanita lain. Selebihnya, fitrahnya sebagai seorang wanita menuntun
perasaannya untuk menangis meluluhkan bebannya lewat cucuran air matanya yang
ia keluarkan dari kelopak matanya yang manis.
1
tahun kemudian….
Entah Tina habis mimpi apa semalam,
ia bak mendapatkan durian runtuh, hatinya berbunga-bunga setelah ia mendapat
kabar dari dokter mata, bahwa ada seorang pendonor mata yang siap mendonorkan
matanya untuk Lisa. Secara percuma, dan pendonor itupun membiayai seluruh biaya
operasi Lisa. Dan operasi mata Lisa akan dilaksanakan 1 minggu lagi. Semoga
operasinya berjalan dengan lancar. Aminn.
1
minggu kemudian
Ini adalah hari dimana Lisa akan
dioperasi, di Rumah Sakit Cahaya tepatnya. Tidak jauh dari tempat Lisa dan Tina
tinggal, hanya berjarak 5 KM-an. Tina ditemani ibu dan ayahnya yang juga
merupakan nenek dan kakek Lisa mengantarkan Lisa. Lisa yang tampaknya sangat
tak sabar menanti kedatangan cahayanya itu terlihat sumringah, wajahnya
beseri-seri.
Sebenarnya Tina tidak tau siapa
orang yang telah mendonorkan kedua bola matanya untuk dititipkan kepada anaknya
itu. Dokter yang menangani operasi mata Lisa merahasiakan hal itu, karena orang
yang merelakan kedua matanya untuk dititipkan kepada Lisa itu yang memintanya.
Dalam hatinya Tina hanya dapat berdoa untuk kebaikan orang yang telah
memberikan cahaya pada Lisa, anaknya.
***
Lantunan doa tak pernah berhenti
Tina panjatkan untuk kesembuhan Lisa. Sudah 6 jam-an Lisa dioperasi, namun
belum ada kabar tentang kondisi Lisa, Tina resah dengan hal itu, kakinya tak
bisa ia diamkan, mondar-mandir di depan pintu ruang operasi.
Dokter keluar dengan raut bahagia.
Mungkin operasinya dapat berjalan dengan lancar. Batin Tina berprasangka baik
dengan keadaan.
“Alhamdulillah operasi Lisa berjalan
dengan lancar meskipun tadi menemui sedikit masalah.”
“Terimakasih dokter, apakah saat ini
saya bisa menemui Lisa?” tanya Tina pada dokter.
“Untuk saat ini Lisa masih butuh
istirahat yang cukup, dan masih ada beberapa kali operasi lanjutan, untuk
memastikan bahwa mata Lisa dapat berfungsi dengan baik, sebaiknya ibu sekarang
tenang dan berdoa yang terbaik untuk operasi lanjutan Lisa”.
Tangis Tina tak mampu ia bendung,
cucuran air mata mengalir deras di pelupuknya. Ibu dan ayah Tina yang berada di samping Tina mencoba
menguatkan Tina, membangkitkan kembali semangat Tina untuk Lisa. Ini demi Lisa,
demi cahaya Lisa. Dikuatkan lagi hatinya.
***
Ini adalah hari yang paling
ditungggu oleh Lisa, Bundanya, Eyang Uti juga Eyang Kakungnya. Semua berdoa
untuk kesembuhan Lisa. Lisa sangatlah tak sabar melihat betapa indahnya wajah
dunia barunnya. Wajah dunia yang sebelumnya hanya ia mimpikan, hanya dapat ia
raba dengan indra perabanya saja. Akan ia lihat beberapa detik lagi oleh indra
penglihatannya yang baru. Dengan begitu indahnya dunia akan terasa sempurna,
karena panca indranya akan berfungsi dengan baik, menjadi anak-anak biasa,
tanpa ada perbedaan lagi.
Perlahan balutan kasa itu dibuka
oleh dokter. Tina, eyang uti juga eyang kakung Lisa harap-harap cemas dengan
hasil operasi berturut-turut yang dilalui Lisa. Betapa kecewanya Lisa jika
operasi matanya ini gagal. Semoga itu tidak terjadi pada Lisa hari ini. Doa
dari orang-orang terdekat Lisa yang menguatkan Lisa.
Ini adalah balutan terakhir yang
dibuka oleh dokter. Semakin mencekam keadaan dalam ruangan bercat hijau itu. Suara
denting jam rupanya dapat terdengar jelas oleh seisi ruangan. Sungguh-sungguh
tegang, Tina yang memegang tangan ibunya berkeringat dingin. Dan…..
Suasana semakin hening. Dilihat oleh
Lisa, kanan… kiri…. Seluruh orang yang memenuhi isi ruangan itu. Buram, belum
nampak jelas.
“ Lisa sekarang bisa lihat atau
tidak sayang?” tanya dokter kepada Lisa.
“ Buram dokk… Lisa belum bisa lihat
siapapun” jawab Lisa apa adanya.
Kalimat Lisa barusan, menjatuhkan
Tina, menyungkurkan Tina yang semula benar-benar jatuh. Akankah cahaya
benar-benar tidak diperuntukkan untuk Lisa?. Pertanyaan itu terus membelenggu
dalam hati Tina mengikat erat tak terlepaskan, menyesakkan dadanya yang semula
baik-baik saja.
“ Bunda……???, aku bisa melihat
bunda… Lisa bisa melihat bundaaa!!!” ujar Lisa dengan keluguannya.
Ikatan yang semula menyesakkan dada
Tina sedikit terlepas. Semoga Lisa benar-benar dapat melihat.
“ Lisa bisa melihat sayang… sekarang
coba lihat tangan dokter jari tangan dokter ada berapa sayang?” tanya dokter
perlahan.
“ Du… dua kan dokter!!!.” jawab Lisa
semangat.
Dan benar… sekarang Tina benar-benar lega. Lega sekali, haru
bahagia sepertinya sekarang ia. Tak dapat diucapkan dengan kata-kata, lidahnya
seakan kelu. Ia hanya dapat bersyukur kepada Tuhan Sang Pemberi Hidup atas
cahaya Lisa.
“ Lisa benar-benar anak yang
pintar!!!.” jawab dokter menyemangati Lisa.
Dipeluknya Lisa erat-erat oleh Tina.
Lagi-lagi Tina menangis, namun ia berjanji ini adalah tangisan yang terakhir
dalam hidupnya, selebihnya air matanya ia titipkan kepada sang awan. Karena
yang boleh menangis adalah awan agar menjadi hujan penyejuk alam.
“ Terimakasih Tuhan, Kau tlah berikan
kepada kami kenikmatan terbesar yang pernah ada dalam keluarga kecil kami. Ya,
aku dan Lisa.”
Kebahagiaan telah menyelimuti
keluarga kecil nan sederhana itu. Cahaya yang diidam-idamkan oleh Lisa sekarang
telah benar-benar ia dapatkan. Tanpa ia tahu bahwa ayahnyalah yang memberikan
cahaya itu pada Lisa. Karena cahaya Lisa diperuntukkan untuk Lisa, hanya Untuk
Lisa.