Minggu, 04 November 2018

CINTA MONYET



SANG PENGAGUM RINDU
Oleh : Widiawati Kholifa
Tak selamnaya menunggu itu kan indah pada waktunya. Menunggu itu membosankan, menjenuhkan dan atau bahkan menunggu itu berujung pada satu kata yang sangat kubenci, yakni “kecewa”. Inilah yang kudapatkan darinya. Pria atletis berambut ikal yang adalah temanku sendiri.
2 tahun aku menunggunya. Menunggu kata cinta itu terucap dari bibirnya. Namun, yang kurasa bibirnya terlalu kelu tuk berucap tentang cintanya itu padaku. Bahkan berfikir tentang cinta dalam kamus hidupnya itu adalah hal yang terlalu mustahil. Semua tahu hal romantis yang selalu lelaki berikan kepada wanita adalah kata cinta itu sendiri, namun tidak untuk dia. Hingga suatu hari aku memberanikan diri untuk menyatakan cinta untuknya lebih dulu.
***
Kluntinggg…
Suara ponselku berdering
“Kamu semangat ya, lomba larinya besok???” pesan WA yang masuk tertuliskan nama Adi di atas pemberitahuan.
“Iya, makasih. Tapi kayaknya aku kurang pede deh…”
“ Apa aku temenin kamu di pertandingan, biar semangat?”
“Nggak usah, emangnya kamu besok nggak pelajaran apa?”
“Pelajaran, kan aku bisa izin sama Pak Udin buat nyemangatin kamu”
“Doanya saja yang terbaik untukku, semoga pulang dapet bawa piala”
“Amin. sekarang tidur sana, jangan tidur malem-malem kasihan tubuh kamu, katanya mau menang!”
“Iya… nih tidur. Da…. Doakan mimpi indah ya???. Night…” tutup pesanku  dengan emotikon smile.
Kisah cinta ini begitu rumit tuk dijelaskan. Semua orang tahu jika aku suka padanya. Desus-desus yang beredar dia juga punya rasa yang sama terhadapku. Namun, aku taklah cukup puas dengan kabar angin yang belum tentu kebenarannya itu. Toh jika dia emang suka aku mengapa dia tak kunjung menyatakan cintanya padaku, ada lebih dari 2 tahun untuknya mengenalku dan mengetahui jika aku suka padanya.
“Temen-temen aku minta doanya ya?, doa yang terbaik saja untukku di perlombaan nanti, syukur kalau menang, kalau menang jangan terlalu dipuji dan jika harus menelan kekalahan jangan dibully yak?” ucapku sebelum meninggalkan kelas untuk berangkat lomba.
“Kita doa bareng-bareng buat Widia, semoga Widia nanti mendapatkan kemudahan untuk mengalahkan lawannya, aminn” ucap Iim mendoakan yang langsung diamini oleh seluruh isi kelas tanpa terkecuali.
Ini adalah hanya perlombaan lari antar sekolah se-kecamatan. Dalam sejarah di SMK ku memang baru ada beberapa piala yang didapatkan, adalah sebuah kebanggaan besar jika dapat menyumbangkan piala untuk sekolah yang aku cintai ini, sebisa mungkin aku berusaha untuk menang, sampai darah penghabisan aku akan berjuang, tekadku dalam hati.
“Adi…. Widia kasih semangat dong!” sahut Iim menebok punggung Adi. Adi yang barusan lewat untuk menuju kelasnya berhenti, entah beraut wajah apa aku tak tahu karna aku lebih memilih membelakangi mereka berdua. Sedang teman-teman yang lain bersorak sorai hampir sama dengan yang diucapakan Iim itu pada Adi. Tak ada suara atau respon dari semua yang dilontaran temanku padanya, selain senyum tipis khas seorang Adi.
“Ahhh… kamu apa-apaan sih tadi Im, pakek acara tanya-tanya lagi, kamu masak nggak tau Adi ajha sihh, hujan petir taukk, dia nyemangatin aku!” tangan Iim kutarik erat-erat menjauh dari si Adi itu.
“Aku kan cuman tanya, salah?, nggak kan?”
“Ahhh udah, capek aku ngomong sama kamu Im, udah aku mau berangkat dulu, doanya jangan lupa”
Di  lapangan hatiku berdesir secara hebat. Kerongkongan pun terasa lebih dahaga dari kondisi awal, setetes air pun ku teguk hanya sebagai penghilang dahaga, tidak lebih. Karena tadi pagi Bapak memang berpesan agar aku tidak terlalu banyak minum, air yang terlalu banyak diminum bisa menjadikan perut keram saat lari.
Lomba tingkat SD, SMP, dan SMA… kini giliranku. 1500 m jarak ada di depan mataku saat ini. Siap nggak siap ya harus siap. Kuat nggak kuat ya harus kuat. Dengan sikap berdiri untuk awalan start, karena ini perlombaan lari marathon, aku berusaha membangun kepercayaan diriku.
“Bersedia, siap… zakkk”.
Aku berlari beriringan dengan lainnya, setengah putaran aku dapat menyalip semua lawanku. Satu putaran aku memimpin di depan. Satu putaran setengah, nafasku terengah engah, aku nggak kuat, dan memutuskan untuk berjalan, Pak Udin nampaknya memberiku semangat dengan bersorak.
“Tambah Wid, tambah…..” ucap beliau dari kejauhan.
Dengan mengisyaratkan tangan beliau berada di atas kepala. Aku teringat pesan bapak juga pagi tadi, beliau juga mnegatakan jika nafasnya nggak kuat angkat tangan sambil lari dengan nafas besar. Aku mencobanya, dan berhasil…. Nafasku mulai teratur lagi. Kini sudah dua putaran, aku masih memimpin. Namun, kulihat pelari lainnya nggak putus asa ngejar aku, sekitar 15 meter jarak aku dengan mereka. Aku nggak boleh gegabah ini adalah putaran ketiga ini adalah penentu. Namun, yang kurasakan adalah pening di kepala, blurrr semuanya terlihat memutih, aku mencoba menguatkan diri dengan meminta pertolongan pada Allah. Kuhampir menyerah. Ku mengingat-ingat lagi orang-orang terdekatku yang berharap besar jika aku pulang bawa piala. Ibuk, Bapak, Mbak Nia, Pak Udin, guru-guruku semua, teman-teman tersayang, dan Adiii…. Dia adalah yang dulu pernah menghina aku kegemukan badan nggak mungkin bisa jadi juara. Akupun meningkatkan kecepatan lariku dannn… Alhamdulillah… menang…. Juara 1. Betapa bahagiannya hatiku.
Di kelas…
“Maaf temen-temen, maaf… banget… aku nggak bisa,” ucapku dengan nada kecewa.
“Nggak papa Wid, kamu kan sudah berusaha semampu kamu” Balas Aar menyemangatiku, juga dengan teman-temanku yang terlihat begitu kecewa.
“Tapi, aku bisanya menang juara 1…..!!!” aku berucap dengan ekspresi penuh. Seketika keadaan kelas yang awalnya mencekam berubah menjadi tangisan bahagia. Sangat bahagia. Semua guru diberitahu tentang kabar gembira ini. Begitupun dengan Adi. Iim yang mengasih tahu dirinya, aku mah cuek bebek sok jual mahal gitu.
Pulang sekolah….
Aku langsung mengambil ponselku dalam kamar. Merebahkan tubuhku di atas kasur, dan mengupload fotoku bersama Pak Udin di story WA. Baru saja aku menaruh ponselku itu untuk beranjak membersihkan diri.
Klunting…
“Foto nggak ajak-ajak, sombong!” pesan masuk dari Adi mengomentari foto yang kupajang dalam storyku tadi.
 “Iya besok-besok foto deh sama kamu,”.
“Mau foto gimana, ketemu aku aja udah ngindar kamunya”.
“Aku mah nggak pernah ngindar Di, cumah risih sama anak-anak, baru deket kamu ajha mereka bersorak sorai apalagi foto bareng kamu?. Udah ahh.. kesel bahasnya. Nggak ngucapin selamat?”
Congratulation Wid”
“Thanks Di”
            Entah apa yang mendasari aku selalu menginginkan dirinya untuk bisa menjadi milikku. Karena rindunya??? rindu yang tak ujung temu. Selalu saja kata memekikkan hati itu menjadi pajangan dalam story WA nya, dalam status FB nya atau bahkan media sosialnya yang lain. Rindu bagiku adalah setia. Yang selalu merindu berarti dia adalah pesetia. Selain sabar dan ikhlas, rindu juga mengajarkan apa arti menunggu yang sesungguhnya. Namun, kepada siapa rindunya itu akan berlabuh? Aku taklah tahu tentang itu.
            Selain rindunya???. Tubuhnya yang atletis. 20 centimeter di atas tubuhku. Hobi olahraga dan…. Dia puitis banget. So sweet tahu. Hari gini nemu cowok suka buat puisi. Sulit untuk dicari. 3 bulan lalu ia mengucapkan selamat ulang tahun padaku dengan kata-kata puitis. Hadiah terspesialku di sweet seventeen ku ya itu. Kalimat-kalimat yang sangat romantic diucapkan oleh seorang Adi. Hanya saja dalam kalimat puitis itu ada kata teman, yang mengisyaratkan bahwa aku dianggap hanyalah sebagai temannya.
Senin….
“Ehhh Im, Pak Udin sama Adi mau kemana tuh?” ucapku pada Iim di balik jendela sekolahan setelah melihat Adi berboncengan sama Pak Udin keluar gerbang sekolahan.
“Mana aku tahu, bukannya kamu yang lebih tahu tentang Adi?” tanya Iim menggoda.
“Balik nanya lagi!”  nadaku agak meninggi.
“Adi mau tanding badminton sekarang” jawab Iim datar
What??? Tanding badminton???. Satu minggu yang lalu Adi tanding catur nggak ngasih tahu aku. Alhasil apa? Kalah kan….. Sekarang tanding badminton juga nggak ngasih tahu. Apa susahnya sih ngasih tahu, biar aku bisa nyemangatin kamu Adi. Peka nggak sih, ni orang?. Gerutuku dalam hati.
Selasa….
            Kupandang dia sekilas berjalan di depan kelasku. Setelah kemarin dia tanding, dan tak memberi tahu tentang hasil pertandingannya itu, aku bersabar, menunggu informasi dari teman-teman yang lain atau informasi langsung dari Pak Udin.
“Pak… gimana hasil tanding badminton Adi kemarin?” tanyaku penasaran pada Pak Udin.
“ Adi masuk perempat final Wid, kasih semangat dong pacar kamu?” goda Pak Udin yang memang tahu perjalanan kisah klasik diantara kami berdua. Bahkan tak jarang jika Pak Udin selalu menjodoh-jodohkan kami berdua.
 “Mana ada pacaran? Jadian ajha belum kok pak. Saya akan semangati Adi dalam hati dan dalam doa sholat dhuha nanti. Hari ini tanding lagi pak?”
“Iya nih mau berangkat. Cari anaknya dimana coba tuh anak. Ada yang mau dititip buat Adi?”
“Enggak pak, mau titip salam saja. Salam semangat dari pengagum rindu gitu pak ya?. Please”
“Sipp”
Pak Udin adalah guru kami. Guru kesiswaan plus guru olahraga kami. Meskipun demikian, beliau adalah juga bapak kami. Beliau adalah sang penasihat terbaik kami. Biasanya kami menyebutnya dengan APU (Anak’e Pak Udin). Terkenal dengan ketegasannya namun, cukup humoris bagi kami. Bahkan kami selalu rindu jika sehari tanpa Pak Udin di sekolahan. Sepi rasanya sekolah, ada sedikit yang berkurang.
Rabu….
            Is time to again the breakclassment” suara bel istirahat kedua berbunyi. Tandanya anak-anak sholah dzuhur. Begitu juga dengan Adi. Sehabis tanding semi final, dia tak lantas pulang atau berdiam diri di kelas, ia juga melaksanakan sholat dzuhur berjamaah. Terlihat berbeda sendiri karena ia memakai pakaian seadanya untuk sholat. Bagiku sama saja memakai apapun kalau udah dari dulu cakep ya cakep.
            “Adi menang atau kalah pak?” tanyaku pada Pak Udin.
            “Masuk ke babak final” jawab Pak Udin seadanya.
            “ WOW jadi besok penentuan juara satu dan dua pak?”
            “ Iya Widiawati….. Pengagum rindu Adi”
            Alhamdulillah setidaknya ada kesempatan untuk menang. Jika tidak juara satu ya juara dua. Aku hanya bisa berdoa untuknya. Yang terbaik untuk kawanku itu.
“Adi semangat buat besok, katanya Pak Udin besok adalah pertandingan final badminton kamu ya?” ketikku dalam pesan WA yang langsung kukirim pada nama Adi dalam kontakku.
“Iya… minta doanya ya?” balas Adi sembari memberi emotikon tangan terkelungkup setelahnya.
“Siap Pak Bos… jangan lupa jaga stamina buat besok”
“Ini barusan habis tanding sepak bola antar desa, mungkin baru tidur jam 11 malam nanti”
“Haduhh… mau menang atau mau kalah sih kamu?, udah aku tidur dulu, semoga esok adalah harimu Adi?” tanpa menunggu balasan darinya aku langsung memejamkan mataku. Tidurrr…
Kamis….
            Kemarin sore aku udah buat rangkaian bunga untuk Adi, menang ataupun kalah aku akan masih selalu mendukungnya, iya dan tetep ngasih bunga itu padanya. Selain mau ngucapin selamat untuknya, aku juga mau ungkapkan rasa yang sesungguhnya ini padanya. Rasa selama lebih dari 2 tahun yang tlah kukubur dalam-dalam, mungkin ini adalah waktu yang tepat. Hal yang sangat aneh. Seorang wanita menyatakan cinta duluan pada seorang pria. Seperti halnya Siti Khadijah yang menyatakan cintanya pada Rasulullah SAW. Akupun melakukan hal yang sama, seperti yang beliau lakukan. Semoga Adi menerima bunga itu dan membalas surat yang kutulis dengan penuh perasaan kemarin malam. Semoga… semoga… dan semoga….
            Sebenarnya aku juga tak ingin jatuh cinta. Bisa dibilang ini adalah cinta pertama untukku. Cinta yang menyiksa batin ini, membuat wajah ini berjerawat, ataupun missed komusikasi dengan orang yang telah kujatuhi cinta. Namun, Tuhan tlah takdirkan kalbu bersemayam disetiap jasmani makhlukNya. Seonggok daging yang dapat merasa, berempati, mengasihi, dan atau bahkan mencintai. Tanpa cinta manusia takkanlah bisa hidup. Namun, karna cinta juga aku bisa mati. Cause Love I can to deadest. Aku berharap jika akulah patahan tulang rusuk Adi, yang dicipta Allah untuk dapat menyempurnakan iman di jalan Nya. Ahhh itu hanyalah sebuah impian kecil dari seorang Widia yang bertubuh kecil.
Di sekolah….
Dengan jantung yang berdegup kencang aku menunggu kedatangan Adi di halaman sekolah. Saat itu aku dan teman-temanku sedang berlatih untuk gerak jalan, untuk lomba gerak jalan beberapa hari lagi. Bercanda tawa dan berdiskusi mengenai konsep kostum, formasi barisan, yel-yel dan lain-lain.
            “Adi dapet juara berapa kamu Adi…..!!!” pertanyaan itu langsung menyerbu Adi bagai serbuan tentara Jepang kala menjajah Indonesia waktu jaman penjajahan dulu. Adi yang duduk di boncengan Pak Udin hanya diam seribu bahasa dan tersenyum tipis. Sedang Pak Udin langsung menjawab pertanyaan itu dengan
“DUA”
“Yeahhhh….  Selamat Adi…” semua mengucapkan ucapan selamat kepada Adi. Ini adalah pencapaian besar buat Adi, buat aku, buat teman-temanku, dan juga buat sekolahan. Sedang aku???
Berlari mengambil bunga dan  mengasih bunga itu padanya. Kuulurkan tanganku untuk memberinya rangkaian bunga itu. Aku tak tahu apa ekspresinya. Aku lebih memilih menyembunyikan wajahku dengan tanganku. Teman-teman yang menyodorkan tanganku pada Adi, dan tangan Adi dipaksa untuk menerima bunga dariku. Lama… aku masih seperti posisi yang sama. Hingga akhirnya aku lelah, dan berfikir jika Adi memang tak punya rasa seperti rasaku padanya. Dan kulepaskan bunga itu. aku berlari menuju kelas untuk menangis. Aku tahu, Adi takkanlah mungkin memiliki rasa yang sama denganku. Sedang aku terlalu percaya diri untuk mendapatkan cintanya Adi. Bodoh lo Wid, tolol, oon.
Dari kejadian pagi itu aku langsung dapat menyimpulkan jika Adi memang hanya menganggapku sebagai teman. Takkanlah lebih. Lalu apa arti semua yang selama ini Adi lakukan padamu Wid?. Menanyaimu sudah makan atau belum. Memberi semangat belajar padamu. Senyumnya padamu, candanya padamu, tatapnya padamu. Apa arti semua itu?. Entah… hanyalah Tuhan yang tahu semua itu.
Ini hanyalah sebuah cinta monyet, antara aku dengan Adinata. Cinta yang tumbuh karena tubuh yang selalu bersama. Tak lebih. Kini…aku lebih berkonsentrasi dengan belajarku. Tidak memikirkan apa yang tak sepatutnya aku pikirkan. Karena harusku adalah belajar, bukan mencari pacar.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar