SANG PENGAGUM
RINDU
Oleh :
Widiawati Kholifa
Tak selamnaya
menunggu itu kan indah pada waktunya. Menunggu itu membosankan, menjenuhkan dan
atau bahkan menunggu itu berujung pada satu kata yang sangat kubenci, yakni
“kecewa”. Inilah yang kudapatkan darinya. Pria atletis berambut ikal yang
adalah temanku sendiri.
2 tahun aku
menunggunya. Menunggu kata cinta itu terucap dari bibirnya. Namun, yang kurasa
bibirnya terlalu kelu tuk berucap tentang cintanya itu padaku. Bahkan berfikir
tentang cinta dalam kamus hidupnya itu adalah hal yang terlalu mustahil. Semua
tahu hal romantis yang selalu lelaki berikan kepada wanita adalah kata cinta
itu sendiri, namun tidak untuk dia. Hingga suatu hari aku memberanikan diri
untuk menyatakan cinta untuknya lebih dulu.
***
Kluntinggg…
Suara ponselku berdering
“Kamu semangat
ya, lomba larinya besok???” pesan WA yang masuk tertuliskan nama Adi di atas
pemberitahuan.
“Iya, makasih.
Tapi kayaknya aku kurang pede deh…”
“ Apa aku
temenin kamu di pertandingan, biar semangat?”
“Nggak usah,
emangnya kamu besok nggak pelajaran apa?”
“Pelajaran, kan
aku bisa izin sama Pak Udin buat nyemangatin kamu”
“Doanya saja
yang terbaik untukku, semoga pulang dapet bawa piala”
“Amin. sekarang
tidur sana, jangan tidur malem-malem kasihan tubuh kamu, katanya mau menang!”
“Iya… nih
tidur. Da…. Doakan mimpi indah ya???. Night…” tutup pesanku dengan emotikon smile.
Kisah cinta ini
begitu rumit tuk dijelaskan. Semua orang tahu jika aku suka padanya.
Desus-desus yang beredar dia juga punya rasa yang sama terhadapku. Namun, aku
taklah cukup puas dengan kabar angin yang belum tentu kebenarannya itu. Toh
jika dia emang suka aku mengapa dia tak kunjung menyatakan cintanya padaku, ada
lebih dari 2 tahun untuknya mengenalku dan mengetahui jika aku suka padanya.
“Temen-temen
aku minta doanya ya?, doa yang terbaik saja untukku di perlombaan nanti, syukur
kalau menang, kalau menang jangan terlalu dipuji dan jika harus menelan
kekalahan jangan dibully yak?” ucapku sebelum meninggalkan kelas untuk
berangkat lomba.
“Kita doa
bareng-bareng buat Widia, semoga Widia nanti mendapatkan kemudahan untuk
mengalahkan lawannya, aminn” ucap Iim mendoakan yang langsung diamini oleh
seluruh isi kelas tanpa terkecuali.
Ini adalah
hanya perlombaan lari antar sekolah se-kecamatan. Dalam sejarah di SMK ku
memang baru ada beberapa piala yang didapatkan, adalah sebuah kebanggaan besar
jika dapat menyumbangkan piala untuk sekolah yang aku cintai ini, sebisa
mungkin aku berusaha untuk menang, sampai darah penghabisan aku akan berjuang, tekadku
dalam hati.
“Adi…. Widia
kasih semangat dong!” sahut Iim menebok punggung Adi. Adi yang barusan lewat
untuk menuju kelasnya berhenti, entah beraut wajah apa aku tak tahu karna aku
lebih memilih membelakangi mereka berdua. Sedang teman-teman yang lain bersorak
sorai hampir sama dengan yang diucapakan Iim itu pada Adi. Tak ada suara atau
respon dari semua yang dilontaran temanku padanya, selain senyum tipis khas
seorang Adi.
“Ahhh… kamu
apa-apaan sih tadi Im, pakek acara tanya-tanya lagi, kamu masak nggak tau Adi
ajha sihh, hujan petir taukk, dia nyemangatin aku!” tangan Iim kutarik
erat-erat menjauh dari si Adi itu.
“Aku kan cuman tanya,
salah?, nggak kan?”
“Ahhh udah,
capek aku ngomong sama kamu Im, udah aku mau berangkat dulu, doanya jangan
lupa”
Di lapangan hatiku berdesir secara hebat.
Kerongkongan pun terasa lebih dahaga dari kondisi awal, setetes air pun ku
teguk hanya sebagai penghilang dahaga, tidak lebih. Karena tadi pagi Bapak
memang berpesan agar aku tidak terlalu banyak minum, air yang terlalu banyak diminum
bisa menjadikan perut keram saat lari.
Lomba tingkat
SD, SMP, dan SMA… kini giliranku. 1500 m jarak ada di depan mataku saat ini.
Siap nggak siap ya harus siap. Kuat nggak kuat ya harus kuat. Dengan sikap
berdiri untuk awalan start, karena ini perlombaan lari marathon, aku berusaha
membangun kepercayaan diriku.
“Bersedia,
siap… zakkk”.
Aku berlari
beriringan dengan lainnya, setengah putaran aku dapat menyalip semua lawanku.
Satu putaran aku memimpin di depan. Satu putaran setengah, nafasku terengah
engah, aku nggak kuat, dan memutuskan untuk berjalan, Pak Udin nampaknya memberiku
semangat dengan bersorak.
“Tambah Wid,
tambah…..” ucap beliau dari kejauhan.
Dengan
mengisyaratkan tangan beliau berada di atas kepala. Aku teringat pesan bapak
juga pagi tadi, beliau juga mnegatakan jika nafasnya nggak kuat angkat tangan
sambil lari dengan nafas besar. Aku mencobanya, dan berhasil…. Nafasku mulai
teratur lagi. Kini sudah dua putaran, aku masih memimpin. Namun, kulihat pelari
lainnya nggak putus asa ngejar aku, sekitar 15 meter jarak aku dengan mereka.
Aku nggak boleh gegabah ini adalah putaran ketiga ini adalah penentu. Namun,
yang kurasakan adalah pening di kepala, blurrr semuanya terlihat memutih, aku
mencoba menguatkan diri dengan meminta pertolongan pada Allah. Kuhampir
menyerah. Ku mengingat-ingat lagi orang-orang terdekatku yang berharap besar
jika aku pulang bawa piala. Ibuk, Bapak, Mbak Nia, Pak Udin, guru-guruku semua,
teman-teman tersayang, dan Adiii…. Dia adalah yang dulu pernah menghina aku
kegemukan badan nggak mungkin bisa jadi juara. Akupun meningkatkan kecepatan
lariku dannn… Alhamdulillah… menang…. Juara 1. Betapa bahagiannya hatiku.
Di kelas…
“Maaf
temen-temen, maaf… banget… aku nggak bisa,” ucapku dengan nada kecewa.
“Nggak papa Wid,
kamu kan sudah berusaha semampu kamu” Balas Aar menyemangatiku, juga dengan
teman-temanku yang terlihat begitu kecewa.
“Tapi, aku bisanya
menang juara 1…..!!!” aku berucap dengan ekspresi penuh. Seketika keadaan kelas
yang awalnya mencekam berubah menjadi tangisan bahagia. Sangat bahagia. Semua
guru diberitahu tentang kabar gembira ini. Begitupun dengan Adi. Iim yang
mengasih tahu dirinya, aku mah cuek bebek sok jual mahal gitu.
Pulang sekolah….
Aku langsung
mengambil ponselku dalam kamar. Merebahkan tubuhku di atas kasur, dan
mengupload fotoku bersama Pak Udin di story WA. Baru saja aku menaruh ponselku
itu untuk beranjak membersihkan diri.
Klunting…
“Foto nggak
ajak-ajak, sombong!” pesan masuk dari Adi mengomentari foto yang kupajang dalam
storyku tadi.
“Iya besok-besok foto deh sama kamu,”.
“Mau foto
gimana, ketemu aku aja udah ngindar kamunya”.
“Aku mah nggak
pernah ngindar Di, cumah risih sama anak-anak, baru deket kamu ajha mereka
bersorak sorai apalagi foto bareng kamu?. Udah ahh.. kesel bahasnya. Nggak ngucapin
selamat?”
“Congratulation
Wid”
“Thanks Di”
Entah apa yang
mendasari aku selalu menginginkan dirinya untuk bisa menjadi milikku. Karena rindunya???
rindu yang tak ujung temu. Selalu saja kata memekikkan hati itu menjadi
pajangan dalam story WA nya, dalam status FB nya atau bahkan media sosialnya
yang lain. Rindu bagiku adalah setia. Yang selalu merindu berarti dia adalah
pesetia. Selain sabar dan ikhlas, rindu juga mengajarkan apa arti menunggu yang
sesungguhnya. Namun, kepada siapa rindunya itu akan berlabuh? Aku taklah tahu
tentang itu.
Selain
rindunya???. Tubuhnya yang atletis. 20 centimeter di atas tubuhku. Hobi
olahraga dan…. Dia puitis banget. So sweet tahu. Hari gini nemu cowok
suka buat puisi. Sulit untuk dicari. 3 bulan lalu ia mengucapkan selamat ulang
tahun padaku dengan kata-kata puitis. Hadiah terspesialku di sweet seventeen
ku ya itu. Kalimat-kalimat yang sangat romantic diucapkan oleh seorang Adi. Hanya
saja dalam kalimat puitis itu ada kata teman, yang mengisyaratkan bahwa aku
dianggap hanyalah sebagai temannya.
Senin….
“Ehhh Im, Pak
Udin sama Adi mau kemana tuh?” ucapku pada Iim di balik jendela sekolahan setelah
melihat Adi berboncengan sama Pak Udin keluar gerbang sekolahan.
“Mana aku tahu,
bukannya kamu yang lebih tahu tentang Adi?” tanya Iim menggoda.
“Balik nanya
lagi!” nadaku agak meninggi.
“Adi mau
tanding badminton sekarang” jawab Iim datar
What???
Tanding badminton???. Satu minggu yang lalu Adi tanding catur nggak
ngasih tahu aku. Alhasil apa? Kalah kan….. Sekarang tanding badminton
juga nggak ngasih tahu. Apa susahnya sih ngasih tahu, biar aku bisa nyemangatin
kamu Adi. Peka nggak sih, ni orang?. Gerutuku dalam hati.
Selasa….
Kupandang dia
sekilas berjalan di depan kelasku. Setelah kemarin dia tanding, dan tak memberi
tahu tentang hasil pertandingannya itu, aku bersabar, menunggu informasi dari
teman-teman yang lain atau informasi langsung dari Pak Udin.
“Pak… gimana
hasil tanding badminton Adi kemarin?” tanyaku penasaran pada Pak Udin.
“ Adi masuk
perempat final Wid, kasih semangat dong pacar kamu?” goda Pak Udin yang memang
tahu perjalanan kisah klasik diantara kami berdua. Bahkan tak jarang jika Pak
Udin selalu menjodoh-jodohkan kami berdua.
“Mana ada pacaran? Jadian ajha belum kok pak.
Saya akan semangati Adi dalam hati dan dalam doa sholat dhuha nanti. Hari ini
tanding lagi pak?”
“Iya nih mau
berangkat. Cari anaknya dimana coba tuh anak. Ada yang mau dititip buat Adi?”
“Enggak pak,
mau titip salam saja. Salam semangat dari pengagum rindu gitu pak ya?. Please”
“Sipp”
Pak Udin adalah
guru kami. Guru kesiswaan plus guru olahraga kami. Meskipun demikian, beliau
adalah juga bapak kami. Beliau adalah sang penasihat terbaik kami. Biasanya
kami menyebutnya dengan APU (Anak’e Pak Udin). Terkenal dengan ketegasannya
namun, cukup humoris bagi kami. Bahkan kami selalu rindu jika sehari tanpa Pak
Udin di sekolahan. Sepi rasanya sekolah, ada sedikit yang berkurang.
Rabu….
“Is time to
again the breakclassment” suara bel istirahat kedua berbunyi. Tandanya anak-anak
sholah dzuhur. Begitu juga dengan Adi. Sehabis tanding semi final, dia tak
lantas pulang atau berdiam diri di kelas, ia juga melaksanakan sholat dzuhur
berjamaah. Terlihat berbeda sendiri karena ia memakai pakaian seadanya untuk
sholat. Bagiku sama saja memakai apapun kalau udah dari dulu cakep ya cakep.
“Adi menang atau
kalah pak?” tanyaku pada Pak Udin.
“Masuk ke babak
final” jawab Pak Udin seadanya.
“ WOW jadi besok
penentuan juara satu dan dua pak?”
“ Iya Widiawati…..
Pengagum rindu Adi”
Alhamdulillah
setidaknya ada kesempatan untuk menang. Jika tidak juara satu ya juara dua. Aku
hanya bisa berdoa untuknya. Yang terbaik untuk kawanku itu.
“Adi semangat
buat besok, katanya Pak Udin besok adalah pertandingan final badminton kamu
ya?” ketikku dalam pesan WA yang langsung kukirim pada nama Adi dalam kontakku.
“Iya… minta
doanya ya?” balas Adi sembari memberi emotikon tangan terkelungkup setelahnya.
“Siap Pak Bos…
jangan lupa jaga stamina buat besok”
“Ini barusan
habis tanding sepak bola antar desa, mungkin baru tidur jam 11 malam nanti”
“Haduhh… mau
menang atau mau kalah sih kamu?, udah aku tidur dulu, semoga esok adalah harimu
Adi?” tanpa menunggu balasan darinya aku langsung memejamkan mataku. Tidurrr…
Kamis….
Kemarin sore aku
udah buat rangkaian bunga untuk Adi, menang ataupun kalah aku akan masih selalu
mendukungnya, iya dan tetep ngasih bunga itu padanya. Selain mau ngucapin
selamat untuknya, aku juga mau ungkapkan rasa yang sesungguhnya ini padanya.
Rasa selama lebih dari 2 tahun yang tlah kukubur dalam-dalam, mungkin ini
adalah waktu yang tepat. Hal yang sangat aneh. Seorang wanita menyatakan cinta
duluan pada seorang pria. Seperti halnya Siti Khadijah yang menyatakan cintanya
pada Rasulullah SAW. Akupun melakukan hal yang sama, seperti yang beliau
lakukan. Semoga Adi menerima bunga itu dan membalas surat yang kutulis dengan
penuh perasaan kemarin malam. Semoga… semoga… dan semoga….
Sebenarnya aku juga
tak ingin jatuh cinta. Bisa dibilang ini adalah cinta pertama untukku. Cinta
yang menyiksa batin ini, membuat wajah ini berjerawat, ataupun missed komusikasi
dengan orang yang telah kujatuhi cinta. Namun, Tuhan tlah takdirkan kalbu
bersemayam disetiap jasmani makhlukNya. Seonggok daging yang dapat merasa,
berempati, mengasihi, dan atau bahkan mencintai. Tanpa cinta manusia takkanlah
bisa hidup. Namun, karna cinta juga aku bisa mati. Cause Love I can to deadest.
Aku berharap jika akulah patahan tulang rusuk Adi, yang dicipta Allah untuk
dapat menyempurnakan iman di jalan Nya. Ahhh itu hanyalah sebuah impian kecil
dari seorang Widia yang bertubuh kecil.
Di sekolah….
Dengan jantung
yang berdegup kencang aku menunggu kedatangan Adi di halaman sekolah. Saat itu
aku dan teman-temanku sedang berlatih untuk gerak jalan, untuk lomba gerak
jalan beberapa hari lagi. Bercanda tawa dan berdiskusi mengenai konsep kostum,
formasi barisan, yel-yel dan lain-lain.
“Adi dapet juara
berapa kamu Adi…..!!!” pertanyaan itu langsung menyerbu Adi bagai serbuan
tentara Jepang kala menjajah Indonesia waktu jaman penjajahan dulu. Adi yang
duduk di boncengan Pak Udin hanya diam seribu bahasa dan tersenyum tipis.
Sedang Pak Udin langsung menjawab pertanyaan itu dengan
“DUA”
“Yeahhhh…. Selamat Adi…” semua mengucapkan ucapan
selamat kepada Adi. Ini adalah pencapaian besar buat Adi, buat aku, buat
teman-temanku, dan juga buat sekolahan. Sedang aku???
Berlari
mengambil bunga dan mengasih bunga itu
padanya. Kuulurkan tanganku untuk memberinya rangkaian bunga itu. Aku tak tahu
apa ekspresinya. Aku lebih memilih menyembunyikan wajahku dengan tanganku. Teman-teman
yang menyodorkan tanganku pada Adi, dan tangan Adi dipaksa untuk menerima bunga
dariku. Lama… aku masih seperti posisi yang sama. Hingga akhirnya aku lelah,
dan berfikir jika Adi memang tak punya rasa seperti rasaku padanya. Dan
kulepaskan bunga itu. aku berlari menuju kelas untuk menangis. Aku tahu, Adi
takkanlah mungkin memiliki rasa yang sama denganku. Sedang aku terlalu percaya
diri untuk mendapatkan cintanya Adi. Bodoh lo Wid, tolol, oon.
Dari kejadian
pagi itu aku langsung dapat menyimpulkan jika Adi memang hanya menganggapku
sebagai teman. Takkanlah lebih. Lalu apa arti semua yang selama ini Adi lakukan
padamu Wid?. Menanyaimu sudah makan atau belum. Memberi semangat belajar
padamu. Senyumnya padamu, candanya padamu, tatapnya padamu. Apa arti semua
itu?. Entah… hanyalah Tuhan yang tahu semua itu.
Ini hanyalah
sebuah cinta monyet, antara aku dengan Adinata. Cinta yang tumbuh karena tubuh
yang selalu bersama. Tak lebih. Kini…aku lebih berkonsentrasi dengan belajarku.
Tidak memikirkan apa yang tak sepatutnya aku pikirkan. Karena harusku adalah
belajar, bukan mencari pacar.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar